Sejarah Kerupuk: Ikon Kuliner Nusantara yang Tak Lekang oleh Waktu

Menelusuri jejak sejarah kerupuk di Indonesia, dari makanan rakyat hingga menjadi pelengkap wajib setiap hidangan.

1 min read
Sejarah Kerupuk: Ikon Kuliner Nusantara yang Tak Lekang oleh Waktu

Siapa yang tidak kenal kerupuk? Makanan ringan yang renyah ini seolah sudah menjadi identitas kuliner Indonesia. Bunyi “kriuk” saat menggigitnya selalu sukses menambah selera makan. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah panjang kerupuk hingga menjadi primadona di meja makan kita?

Asal Usul Kerupuk

Konon, kerupuk sudah ada di Jawa sejak abad ke-9 atau ke-10. Hal ini tertulis dalam prasasti Batu Pura yang menyebutkan adanya “kerupuk rambak”. Awalnya, kerupuk dibuat untuk memanfaatkan hasil panen yang berlebih atau sisa-sisa bahan makanan agar tidak terbuang, seperti kulit sapi atau singkong.

Evolusi Kerupuk Udang

Khusus untuk kerupuk udang seperti yang diproduksi oleh Do’a Ibu, sejarahnya berkaitan erat dengan melimpahnya hasil laut di wilayah pesisir. Nelayan zaman dulu mencari cara untuk mengawetkan udang. Mereka menumbuk udang halus, mencampurnya dengan tepung tapioka, dan menjemurnya hingga kering. Jadilah kerupuk udang yang awet dan bisa dinikmati kapan saja.

Kerupuk Hari Ini

Kini, kerupuk bukan lagi sekadar makanan sisa atau pengawetan sederhana. Di Pabrik Kerupuk Do’a Ibu, kami meneruskan tradisi ini dengan sentuhan modern. Kami menggunakan udang segar pilihan dan teknologi pengeringan yang higienis untuk menghasilkan kerupuk yang tidak hanya renyah, tetapi juga sehat dan berkualitas tinggi.

Setiap gigitan Kerupuk Do’a Ibu adalah perpaduan warisan leluhur dan dedikasi kami untuk kualitas. Jadi, sudahkah Anda makan kerupuk hari ini?