Mengapa Nasi Goreng Terasa Hampa Tanpa Kerupuk?
Filosofi kerupuk sebagai teman makan sejati orang Indonesia. Kenapa makan tanpa kerupuk rasanya kurang lengkap?

Ada pepatah tidak tertulis di Indonesia: “Makan tanpa kerupuk ibarat sayur tanpa garam.” Kurang pas, kurang nendang, ada yang hilang. Baik itu nasi goreng, gado-gado, soto, bubur ayam, hingga nasi putih hangat dengan sambal, kerupuk selalu punya tempat istimewa.
Tekstur adalah Kunci
Secara psikologis, manusia menyukai variasi tekstur dalam makanan. Makanan utama kita seringkali bertekstur lunak (nasi, bubur, lontong). Kehadiran kerupuk memberikan elemen tekstur kontras: renyah dan garing. Bunyi kriuk saat mengunyah memberikan kepuasan sensorik tersendiri yang meningkatkan nafsu makan.
Penetralsir Rasa
Kerupuk, terutama kerupuk udang Do’a Ibu yang gurih, berfungsi sebagai penyeimbang rasa. Saat Anda menyantap makanan pedas atau berkuah kental, kerupuk membantu menetralkan lidah sejenak sebelum suapan berikutnya, membuat rasa makanan tetap terasa fresh.
Teman Setia Segala Suasana
Kerupuk itu demokratis. Ia bisa masuk ke restoran mewah sebagai pendamping Nasi Goreng Kampung seharga ratusan ribu, tapi juga setia menemani Bubur Ayam gerobakan di pinggir jalan.
Di Do’a Ibu, kami bangga menjadi bagian dari tradisi makan Anda. Kami memastikan setiap keping kerupuk yang kami produksi layak menjadi teman setia hidangan lezat di meja makan keluarga Anda. Jadi, menu apa yang Anda santap hari ini? Jangan lupa kerupuknya, ya!